ni beberapa foto yang diambil dari Padang.
mumnya kerusakan tidak menyeluruh, hanya 10-30% dari bangunan,
tergantung daerahnya. Dan derajat kerusakan juga tidak merata, ada
yang rusak / rubuh total, sementara gedung disebelahnya masih utuh
berdiri tanpa mengalami kerusakan signifikan.
Yang menyedihkan, Ukeruntuhan berlangsung tiba-tiba, dan pada kasus
gedung bertingkat, membuat penghuni yang berada di lantai 2 keatas
tidak sempat melarikan diri dan tertimbun.
Contohnya: Gedung hotel, kampus, dan ruko tempat Bimbel.
Dari beberapa kasus juga terlihat banyak sekali kasus soft-story,
dimana pada lantai bawah tidak dijumpai tembok dinding, sehingga pada
getaran awal kolom akan lebih lemah dibawah dan mengalami deformasi
yang besar. Mungkin untuk projek baru perlu dilakukan analisis
tambahan beban ekivalen gempa untuk 1 tingkat saja, dimana berat
tingkat diatasnya dibebankan semua ke kolom terbawah.
Penyebab lainnya adalah jenis tanah pendukung berupa tanah pasir,
dimana ada bagian lensa padat yang duduk diatas lapisan pasir lepas
yang lunak. Kemungkinan beberapa bangunan mengalami perbedaan
penurunan yang besar akibat liquefaction. Perbedaan penurunan yang
sangat besar diantara 2 kolom akan membuat balok patah dan selanjutnya
kolom mengalami kegagalan. Solusinya : mungkin lokasi tersebut
dihindari atau menggunakan pondasi dalam sampai ke bedrock. Ada
deretan ruko yang mengalami kemiringan sampai 30 derajat.
Penyebab utama lainnya adalah keruntuhan geser kepala kolom akibat
tulangan sengkang yang sangat kecil (Kolom 60×60 pakai sengkang
tunggal polos d8-150) yang tidak ditekuk 45 derajat, dan mutu beton
yang kurang baik karena menggunakan batu bulat bukannya batu pecah
(split). Kepala kolom menjadi hancur dan tulangan utama mengalami
buckling, sengkang putus, dan kolom berdeformasi sampai 30cm sehingga
bangunan banyak yang mengalami kemiringan cukup besar.
Bangunan baja yang biasanya cukup daktail juga banyak yang mengalami
kegagalan struktur, termasuk kolom baja komposit. Hal ini perlu
diselidiki lebih lanjut mengapa demikian.
Gempa yang terjadi di Padang Skala 7.9 Richter bisa dikatakan gempa
besar, namun karena sebagian besar bangunan masih berdiri, masih perlu
diselidiki kontribusi atas banyaknya keruntuhan itu lebih banyak
akibat differential settlement karna liquefaction atau akibat mutu
disain dan konstruksi yang buruk.
Melihat banyaknya kegagalan struktur akibat gempa ini maka kita perlu
terus mengasah lagi kemampuan menerjemahkan peraturan gempa dan
perkembangan terakhir mengenai metode dan detail konstruksi kedalam
projek yang kita kerjakan.
By
Nathan Madutujuh















